Home / Pilihan Editor / Selecao vs Sao Paolo, kota yang bermasalah bagi Brazil
Selecao vs Sao Paolo, kota yang bermasalah bagi Brazil

Selecao vs Sao Paolo, kota yang bermasalah bagi Brazil

SoccerGo! – Jum’at ini (waktu setempat), Brazil akan mengadakan pertandingan uji coba melawan Panama. Hal yang menarik untuk dilihat selain dari pertandingan ini yakni reaksi tuan rumah warga kota Sao Paolo dimana kota ini merupakan kota yang anti terhadap timnas Brazil dan juga akan menjadi kota pembuka Piala Dunia diman Brazil akan bertanding melawan Kroasia. Namun hubungan antara Sao Paolo dan timnas Brazil selalu tidak baik sepanjang sejarah.

The Paulista (sebutan untuk warga Sao Paolo) merupakan publik yang terkenal yang selalu memberikan “neraka” bagi timnasi Brazil. Tidak ada contoh yang lebih baik daripada di Piala Dunia 1950, saat itu Brazil imbang 2-2 dengan Swiss dan efeknya mengguncang para pemain Brazil sehingga tim memutuskan untuk hanya bermain semua di pertandingan sisa mereka di kota Rio de Jenairo untuk menghindari lebih banyak ejekan terutama dari warga Sao Paolo.

Akan menjadi hal yang dirasa tidak adil dimana Sao Paolo menjadi satu-satunya kota dimana timnas Brazil akan selalu di cemooh sepanjang pertandingan. Miisalnya, saat mereka bertepuk tangan setiap Lionel Messi melakukan sentuhan saat Argentina melawan Brazil di kualifikasi Piala Dunia 2010.

Seperti halnya kejadian di Negara lain, hal ini diakibatkan adanya hubungan akar politik yang tidak baik antara warga Sao Paolo dengan Negara Brazil. Sao Paolo sebagai pusat kekuatan ekonomi dan politik sejak abad ke-19, memiliki pengaruh yang kuat dan meledak pada tahun 1930 dengan adanya kudeta militer yang menempatkan Getulio Vargas berkuasa dengan mengorbankantokoh dari Sao Paulo, Julio Prestes. Ketidakpuasan itu didorong pula oleh keputusan Vargas untuk membatasi otonomi daerah buat Sao Paolo dan menyebabkan terjadinya 1.932 orang pemberontakan yang menimbulkan Perang Saudara.

Tapi bahkan sebelum itu, timnas Brazil juga berjuang di Piala Dunia dengan menimbulkan kebencian dari warga Sao Paolo. Sepak bola yang jgua dijadikan sebagai perjuangan politik, sat Piala Dunia 1930 dan 1934, warga Sao Paolo memboikot hingga akhirnya timnas Brazil tidak ada di isi oleh pemain yang berasal dai Sao Paolo. Jika hal ini seperti ini juga terjadi di Piala Dunia 1958, tidak aka nada Pele di Piala Dunia tersebut.

Bahkan skuad Brazil di Piala Dunia 1970 tidak luput dari murka warga Sao Paolo yang mencemoh secara intensif selama pertandingan persahabatan dengan Bulgaria sebelum Piala Dunia di Meksiko, dan ejekan itu tidak berhenti ketika Pele beristirahat babak pertama sampai kembali memasuki lapangan.

Pada tahun 1993, kemenangan 2-0 Brazil melawan Ekuador dirusak oleh kemarahan kapten Brazil kala itu – Dunga – yang merayakan gol dengan “meludah dengan penuh kebencian” terhadap pendukung Sao Paolo. Tujuh tahun kemudian, tindakan itu menjadi symbol dan dibalas dengan Ribuan bendera mini Brasil yang dilemparkan ke lapangan saat menang Brazil menang tipis 1-0 atas Kolombia.

Dunga kembali merasakan ejekekan di tahun 2007 saat dia menjadi pelatih Brazil ketika menang 2-1 atas Uruguay. Saat itu pemain merayakannya di atas lapangan namun ejekan terus diperdengarkan penonton Sao Paolo.

Dan dalam skuad saat ini, Neymar termasuk pemain yang mengalami perlakuan buruk dari Paulista di tahun 2012, ketika kemenangan 1-0 atas Afrika Selatan.

“Itu adalah pertandingan pertama saya untuk Selecao sebagai tuan rumah, dan saya harus mengakui itu hari itu merupakan hari yang cukup sulit untuk ditangani pada awalnya,”.

Hal ini tidak mengherankan bahwa subjek menjadi mana-mana dalam kegiatan media Selecao minggu ini. Luiz Felipe Scolari, yang melatih Sao Paulo sisi Palmeiras selama tujuh tahun lebih dari dua mantra, telah memulai ofensif pesona dengan mengatakan dia yakin masyarakat akan memahami pentingnya acara tersebut, terutama pertandingan kompetitif Kamis depan.

Menanggapi hal ini menjelang laga Brazil kontra Panana, pelatih Brazil yang sekarng yakni Luiz Felipe Scolari berkata,

“Sudah saatnya bagi kita untuk mengubah sejarah ini. Sao Paulo akan mendapat kehormatan sebgai tuan rumah laga pembuka Piala Dunia, dan saya berharap timnas Brazil akan disambut baik oleh para pendukung. Kita membutuhkan mereka untuk mengatasi kesulitan kami,” kata Scolari, yang akan melatih tim nasional Brazil di Sao Paulo untuk pertama kalinya dalam karirnya.