Home / Liga Indonesia / Arema lebih andalkan pemain luar

Arema lebih andalkan pemain luar

SoccerGo!Arema Cronous adalah salah satu tim Indonesia Super League (ISL) yang paling banyak dijejali pemain non-lokal. Terhitung ada lima pemain yang lahir di negeri lain, yakni Gustavo Lopez, Beto Goncalves, Thierry Gathuessy, Christian Gonzales dan Victor Igbonefo.

Dua nama terakhir statusnya sudah WNI (Warga Negara Indonesia) karena telah dinaturalisasi. Walau dipadati lima pemain non-pribumi, tampaknya belum membuat Arema puas. Nyatanya masih tersisa perburuan pemain impor lagi sebelum kick off ISL.

Arema masih memiliki satu slot pemain asing asal Asia yang masih bisa dimanfaatkan. “Ya, Arema masih memiliki rencana transfer lagi. Kami masih butuh pemain asing berposisi full back dan berpengalaman di liga Indonesia,” terang General Manager Arema, Ruddy Widodo.

Sebenarnya Arema sudah kedatangan pemain asal Korea Selatan, Shin Ho Sung, namun kualitasnya tak membangkitkan selera staf pelatih. Manajemen menargetkan transfer pemain baru nanti tidak melalui seleksi dan sudah dikontrak sebelum launching tim pada 29 Januari.

“Sudah ada incaran. Semoga sesuai rencana,” tambah Ruddy. Jika transfer ini berjalan mulus, maka bakal ada setengah lusin pemain non-pribumi di tubuh Singo Edan. Perekrutan pemain berposisi full back sebenarnya wujud dari kekhawatiran di lini pertahanan.

Arema memiliki empat full back, yakni Benny Wahyudi, Gilang Ginarsa, Johan Alfarizi dan Thierry Gathuessy. Namun itu belum efektif karena Thierry lebih sering digeser ke posisi centre back karena menurunnya performa Munhar dan rentan cederanya Purwaka Yudhi.

Gilang Ginarsa juga masih muda dan belum memiliki jam terbang memadai di ISL. Musim lalu dia hanya menjadi cadangan Hasim Kipuw yang hengkang ke Persebaya. Benny Wahyudi yang memiliki posisi natural di kiri, sering difungsikan di kanan.

Seringnya utak-atik lini belakang ini membuat Pelatih Arema Suharno kurang tenang. Akhirnya diputuskan mencari pemain asing berposisi full back untuk melengkapi lini pertahanan. “Kalau mencari pemain lokal sulit mendapatkan kualitas bagus,” kata Suharno.

Dia meyakini pemain dengan kualitas sesuai keinginan Arema sudah langka karena para pemain sudah memiliki klub, apalagi selevel pemain tim nasional. Akhirnya diputuskan memanfaatkan satu slot pemain asing yang tersisa, yakni untuk pemain Asia.

Suharno menyebut langkah itu tidak menjadikan Arema sebagai klub yang boros. Dia lebih berpikir dari sisi kebutuhan tim, terutama evaluasi dari turnamen pra musim maupun ujicoba. Diakuinya posisi yang terkadang masih labil adalah sektor pertahanan.

“Saya rasa perekrutan satu pemain lagi bukan pemborosan. Arema harus melakukan berbagai upaya untuk menyempurnakan tim. Itu (penambahan pemain) sudah menjadi kebutuhan,” papar Suharno.

Namun jika transfer nanti gagal, dia bakal memanfaatkan aset yang ada. Sementara, setelah gagalnya final Inter Island Cup (IIC) pada 25 Januari lalu, Arema berupaya keras menjaga kondisi hingga bergulirnya ISL nanti. Suharno memberikan latihan fisik yang lebih keras untuk pemainnya agar tidak drop.

Jika dihitung dari laga terakhir delapan besar IIC kontra Sriwijaya FC, maka ada waktu sekitar dua pekan untuk istirahat. Nah, untuk mengantisipasi kosongnya jadwal, Arema diberi porsi latihan fisik lebih banyak. Akhir pekan kemarin Singo Edan dibawa ke Kebun Raya Purwodadi.

Kebun raya yang masuh wilayah Pasuruan dan hanya berjarak setengah jam dari Malang itu menjadi lokasi penggemblengan fisik Kurnia Meiga dkk. Rencananya dalam sepekan kedepan materi latihan seperti itu tetap diberikan.