Home / Liga Indonesia / Jadwal Final IIC Tidak Jelas, Tanda – Tanda Buruk ISL?

Jadwal Final IIC Tidak Jelas, Tanda – Tanda Buruk ISL?

SoccerGo!Telah kedua kalinya Jawa Timur gagal menggelar pertandingan final turnamen pra musim secara normal. Tentunya masih belum hilang dari ingatan final East Java Tournament yang dibuang ke markas Akademi Angkatan Laut (AAL) Bumimoro, sekarang menular ke Inter Island Cup (IIC).

Laga final antara Arema Cronous kontra Persib Bandung yang sejatinya dihelat 25 Januari di Gelora Delta Sidoarjo mendapat lampu merah dari aparat keamanan. Sehingga terpaksa PT Liga Indonesia memutuskan final ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

Tidak berhasilnya dua final turnamen di Jawa Timur tersebut menjadi sinyalemen negatif bagi Indonesia Super League (ISL). Sepintas itu menjadi gambaran bahwa potensi pembatalan pertandingan karena faktor keamanan yang melibatkan supporter sangat mudah terjadi.

Meski PT Liga Indonesia sudah membelah kompetisi menjadi dua wilayah, tampaknya gesekan antar suporter belum sepenuhnya hilang. Karena perseteruan antar supporter kini tak lagi tergantung siapa yang bertanding di lapangan.

Tim – tim yang memiliki rivalitas spporter dan berada satu wilayah seperti Arema Cronous-Persik Kediri, kemudian Persela Lamongan-Persebaya harus bersiap pertandingan mereka bakal bermasalah. Ditambah lagi dikaitkan dengan ramainya agenda politik di 2014.

Telah menjadi tradisi bahwa pihak kepolisian tidak mau repot ketika ada agenda politik di wilayahnya. Jadwal politik ibarat dewa. Sebab berbagai macam keramaian, yang termasuk pertandingan sepakbola semua harus tiarap ketika ada acara politik.

Lalu tanpa ada upaya antisipasi sejak dini, maka diyakini fenomena di final East Java Tournament dan Inter Island Cup bakal kembali terjadi di kemudian hari. Hingga akhirnya pertandingan yang seharusnya menjadi hiburan dan adu kualitas tim berubah cacat.

Panitia menunjuk final East Java Tournament yang akhirnya memunculkan sentimen pada panitia penyelenggara. Pihak panitia dituding tidak konsisten karena mengubah-ubah venue final antara Persebaya versus Arema Cronous. Terlebih lebih parah, pertandingan digelar AAL dan tanpa penonton.

Penyelesaian terbaik menurut pandangan Suyitno adalah memindahkan venue di tempat lain dan tak perlu dipaksakan di Sidoarjo. Venue di Jawa Tengah disebut sebagai tempat paling ideal jika bicara tempat netral karena jaraknya sama-sama jauh dari Bandung maupun Malang.

Proses pemindahan venue menjadi pilihan lebih baik dibanding pertandingan tanpa penonton. Ditambah kekhawatiran aparat keamanan terhadap ancaman kekacauan di Sidoarjo sangat beralasan. Terlebih lawannya adalah Persib Bandung dengan suporter Bobotoh. Sebab setiap kali datang ke Jawa Timur, fans Persebaya alias Bonek selalu membonceng mereka.

Melirik peta kerusuhan suporter di Sidoarjo sebenarnya bukan Gelora Delta yang menjadi lokasi ‘pertikaian’. Seluruh supporter biasanya panas di jalanan sekitar stadion,yang sekaligus jembatan layang tol berjarak 500 meter dari Gelora Delta yang menjadi akses suporter ke Malang.